1 bulan lalu
25
00
Seouldrip🇰🇷

Mengapa Frasa ‘-dorok hagesseumnida’ Sering Muncul di Acara Formal?

Saya merasa risih saat melihat pembawa acara di TV berbicara seperti ini. Pertama, penggunaan ‘……dorok hagesseumnida’. Misalnya, ‘Sijang-dorok hagesseumnida’ (Saya akan melakukan pemberian penghargaan), ‘Bodorok hagesseumnida’ (Saya akan melihat), ‘Balpyo-reul deut-dorok hagesseumnida’ (Saya akan mendengarkan presentasi). Padahal, mereka bisa saja mengatakan ‘Sijang-hagesseumnida’, ‘Bogesseumnida’, atau ‘Balpyo-hagesseumnida’. Saya tidak mengerti mengapa mereka harus memperpanjang kalimat menjadi ‘……dorok hagesseumnida’. Jika melihat acara penghargaan akhir tahun, semua orang menggunakan kalimat pembawa acara yang seragam dan membosankan seperti ‘……dorok hagesseumnida’. Apa yang sebenarnya ingin mereka "buat agar terjadi"? Tidakkah mereka pernah mempertanyakan kalimat seperti ini? Saya merasa risih melihat sikap tidak berpikir yang hanya mengikuti apa yang banyak dilakukan orang lain. (Yoo Sun-kyung, 《Kosa Kata Orang Dewasa》, 2020)

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan pembaca adalah apakah ‘~dorok’ bisa digunakan untuk diri sendiri. Contohnya adalah ekspresi seperti “Je-ga hadorok hagesseumnida” (Saya akan melakukannya), “Josim-hadorok hagesseumnida” (Saya akan berhati-hati), “Malsseum-deuridorok hagesseumnida” (Saya akan menyampaikannya). ‘~dorok’ biasanya digunakan dengan arti yang mirip dengan ‘~gekkeum’ (agar/supaya), seperti dalam “Mae-il jeomgeom-hadorok jisi-haetda” (Saya menginstruksikan agar diperiksa setiap hari) atau “Jal jaradorok georeum-eul jueotda” (Saya memberi pupuk agar tumbuh dengan baik). Lalu, mengapa orang memilih untuk mengatakan “Je-ga hadorok hagesseumnida” padahal bisa cukup dengan “Je-ga hagesseumnida”? Mengenai hal ini, ada orang yang menduga bahwa hal itu terjadi karena keinginan untuk mengekspresikan rasa hormat. Mereka menganggap “Je-ga hadorok hagesseumnida” adalah ekspresi yang lebih sopan. (Bae Sang-bok, 〈[Memperbaiki Bahasa Kita] Bisakah ‘~dorok’ digunakan untuk diri sendiri?〉, JoongAng Ilbo, 06-03-2023, diperiksa pada 30-05-2026,

https://www.joongang.co.kr/article/25144864

https://www.joongang.co.kr/article/25144864

)

Ada ungkapan yang sering kita jumpai di acara resmi, wawancara, konferensi pers, dan sebagainya.

“Hadorok hagesseumnida.”

Baik saat memberikan penghargaan, meminta maaf, maupun memberikan saran, ada orang yang menganggap bahwa menyisipkan "bantalan" berupa kata “hadorok” alih-alih langsung mengatakan “hagesseumnida” adalah etika atau kebiasaan di forum resmi. Yoo Sun-kyung secara terang-terangan menunjukkan keengganannya, menganggap kalimat seragam ini digunakan tanpa berpikir hanya karena banyak orang lain yang melakukannya. Ia bahkan menyindir apakah ada aturan tak tertulis bahwa semakin panjang kalimat, maka semakin besar rasa hormat yang tersampaikan. Bae Sang-bok menduga bahwa ekspresi ini mungkin lebih sopan dan hormat, namun ia tidak menemukan alasan pasti untuk dugaan tersebut.

Pertama, mari kita telusuri makna literal dari -dorok. Kamus Besar Bahasa Korea (Standard Korean Language Dictionary) menjelaskannya sebagai berikut:

dorok5

「Kosakata Referensi」

-gekkeum

-gekkeum

「Akhiran (Ending)」

1 ((Menempel pada akar kata kerja, beberapa akar kata sifat, atau setelah akhiran ‘-eusi-’))

Akhiran penghubung yang menunjukkan bahwa isi sebelumnya menjadi tujuan, hasil, cara, atau tingkat dari situasi yang dirujuk setelahnya. Partikel pembantu seperti ‘eun’, ‘do’, ‘kkaji’ dapat mengikuti setelahnya.

Saya memberi pupuk agar pohon tumbuh dengan baik.

Kita harus tenang agar tamu bisa tidur dengan nyaman.

Kita harus menjaga anak-anak agar mereka bisa menyeberang jalan dengan aman.

2 ((Menempel langsung pada akar kata kerja)) Digunakan di posisi kalimat perintah, merupakan akhiran penutup yang menunjukkan instruksi atau perintah.

Bubarlah sekarang, dan berkumpullah kembali di tempat ini pada pukul dua belas.

-dorok dalam “Hadorok hagesseumnida” termasuk dalam kategori pertama. Artinya, ekspresi “-dorok hagesseumnida” menunjukkan bahwa isi sebelumnya menjadi tujuan, hasil, cara, atau tingkat dari tindakan yang dikatakan pembicara sebagai “hagesseumnida” (akan melakukan).

Sekarang, mari kita ambil contoh “Sijang-dorok hagesseumnida” (Saya akan melakukan pemberian penghargaan). Secara literal, ini lebih dekat dengan makna ‘Saya akan membuat pemberian penghargaan terjadi’ daripada mengatakan bahwa pembicara akan langsung memberikan penghargaan tersebut. Tentu saja, karena pembawa acara tidak selalu memberikan penghargaan secara langsung di lokasi acara, ekspresi ini mungkin terdengar cukup alami sebagai kata-kata pengatur prosedur. Namun, hal itu saja tidak cukup untuk menjelaskan penggunaan ekspresi ini. Sebab, bahkan ketika pembawa acara menyerahkan penghargaan secara langsung, mereka tetap mengatakan “Sijang-dorok hagesseumnida”, dan format yang sama juga digunakan untuk tindakan yang dilakukan langsung oleh pembicara sendiri, seperti “Malsseum-deuridorok hagesseumnida” (Saya akan menyampaikan) atau “Josim-hadorok hagesseumnida” (Saya akan berhati-hati).

Oleh karena itu, inti dari ekspresi ini bukan terletak pada apakah tindakan aktualnya bersifat tidak langsung atau tidak. Intinya adalah menghindari penyampaian langsung bahkan untuk tindakan yang dilakukan sendiri, dan menggunakan format yang berputar-putar dengan menyatakan bahwa "ia akan membuat hal itu terjadi". Dengan kata lain, pembicara tidak mengatakan “Saya akan mencapai hal itu”, melainkan “Saya akan membuat hal itu tercapai”, sehingga menurunkan subjektivitas atau dominasi tindakannya. Dalam hal ini, kritik Yoo Sun-kyung yang menyebutnya sebagai redundansi yang tidak perlu dapat dipahami.

Namun, intuisi kita juga cenderung merasa bahwa ekspresi ini memang terasa lebih sopan. Mengapa demikian? Yoo Sun-kyung menyindir apakah semakin panjang kalimat berarti semakin sopan, tetapi hal itu sebenarnya mengandung sebagian kebenaran. Lebih tepatnya, bukan berarti memperpanjang kalimat secara otomatis menciptakan kesopanan. Hanya saja, karena ingin mengurangi sifat langsung dan mengekspresikannya secara tidak langsung, maka kalimatnya menjadi lebih panjang.

Percakapan bukan sekadar tindakan memberi dan menerima informasi. Agar percakapan terjalin, pembicara dan pendengar harus bekerja sama menggunakan kata-kata yang dapat dipahami satu sama lain. Ahli linguistik Herbert Paul Grice menyebut hal ini sebagai Prinsip Kerja Sama, dan salah satu sub-prinsipnya adalah Maksim Cara (Manner). Maksim Cara menuntut agar seseorang menghindari ekspresi yang ambigu atau bermakna ganda, serta berbicara sesingkat dan seteratur mungkin.

Dari standar ini, “-dorok hagesseumnida” jelas tidak efisien. Karena kata-kata yang bisa disampaikan dengan “hagesseumnida” diputar satu lapis menjadi “hadorok hagesseumnida”. Oleh karena itu, ekspresi ini tampak bertentangan dengan Maksim Cara, terutama dalam hal keringkasan. Inilah alasan mengapa Yoo Sun-kyung merasa ekspresi ini adalah redundansi. Namun, jika efisiensi adalah segalanya dalam percakapan, maka kata-kata sopan sejak awal akan dianggap sebagai redundansi.

Percakapan tidak berjalan hanya dengan kerja sama. Percakapan juga selalu menjadi tindakan untuk menyesuaikan hubungan. Sambil menyampaikan informasi, manusia mencoba untuk tidak menyinggung harga diri (face) lawan bicara, dan mengatur agar tindakannya tidak terlihat terlalu memaksa atau sewenang-wenang. Di sinilah masalah kesopanan (politeness) muncul.

Dalam Prinsip Kesopanan dari ahli linguistik Geoffrey Leech, hal yang penting adalah bahwa percakapan menyesuaikan beban dan keuntungan satu sama lain. Kata-kata sopan disusun sedemikian rupa untuk mengurangi beban yang akan diterima lawan bicara, dan menurunkan keuntungan atau pamer diri yang akan diterima pembicara. Penelope Brown dan Stephen Levinson juga menjelaskan strategi kesopanan berpusat pada konsep ‘face’ (muka/harga diri). Manusia memiliki ‘negative face’ (keinginan untuk tidak diganggu atau dibatasi) dan ‘positive face’ (keinginan untuk diakui dan dihormati). Tuturan yang menyentuh hubungan antara pembicara dan pendengar, seperti permintaan, instruksi, permintaan maaf, janji, atau pengumuman, dapat mengancam ‘face’ ini, sehingga pembicara mengurangi sifat langsung dengan berbagai cara. Semakin sedikit format kata-kata menonjolkan diri pembicara, semakin sedikit tindakan tersebut mengganggu harga diri lawan bicara.

“-dorok hagesseumnida” dapat dipahami dari titik ini. Ekspresi ini bukan berarti memberikan hak keputusan aktual kepada pendengar. Mengatakan “Sijang-dorok hagesseumnida” tidak berarti penonton yang memutuskan apakah penghargaan akan diberikan atau tidak. Namun, ekspresi ini mengalihkan deklarasi tindakan langsung “Saya akan melakukannya” menjadi format “Saya akan membuat hal itu terjadi”. Pembicara tidak menempatkan dirinya di garis depan tindakan, melainkan memposisikan diri sebagai orang yang mengatur agar hal tersebut terwujud. Pengalihan ini mengurangi sifat langsung, dan karena itulah, di forum resmi, hal ini terdengar lebih sopan.

Meski begitu, bukan berarti semakin tidak langsung maka akan selalu semakin sopan. Terutama dalam hal janji, prinsip yang bekerja berbeda dengan perintah atau permintaan. Perintah adalah tindakan yang memberikan beban kepada pendengar, sehingga semakin tidak langsung ekspresinya, semakin efektif dalam mengurangi beban pendengar. Namun, janji adalah tindakan di mana pembicara secara sukarela mengambil beban untuk melakukan sesuatu di masa depan. Dalam kasus ini, justru semakin langsung pembicara mengatakannya, semakin jelas tanggung jawab pembicara, dan semakin besar keuntungan atau rasa tenang yang diterima pendengar.

Masalah muncul jika seseorang berpikir bahwa di forum resmi, sifat langsung harus selalu dikurangi tanpa mempertimbangkan hal ini. Contohnya adalah ketika seseorang seharusnya mengatakan “Gochigesseumnida” (Saya akan memperbaikinya) atau “Sijeong-hagesseumnida” (Saya akan mengoreksinya) setelah kesalahannya ditunjukkan, tetapi malah mengatakan “Gochidorok hagesseumnida” atau “Sijeong-hadorok hagesseumnida”. Ekspresi ini membuat pembicara mundur selangkah dari tindakannya bahkan di saat harus membuat janji yang bertanggung jawab. Karena maknanya menjadi lebih dekat dengan “Saya akan membuat hal itu diperbaiki” daripada “Saya akan memperbaikinya”. Oleh karena itu, kata-kata seperti ini bisa terdengar seperti upaya mengaburkan tanggung jawab daripada bersikap sopan. Meskipun merupakan ekspresi idiomatis yang umum digunakan, hal ini mungkin turut berkontribusi dalam meningkatkan ketidakpercayaan bahwa masyarakat Korea kekurangan permintaan maaf yang tulus.

Lantas, apakah saran Yoo Sun-kyung salah karena mengabaikan konteks tuturan bahasa ini, atau dalam istilah akademis, masalah pragmatik? Tidak juga. Dalam penulisan, ekspresi yang jelas bisa jadi lebih penting. Mari lihat contoh lain. Lee Kang-ryong dalam 《Belajar Bahasa Korea untuk Penerjemah》 menyebut ekspresi seperti “Sarang-hamnida, gogaek-nim” (Kami mencintai Anda, Pelanggan), “Eojjeotdeun miri gamsahamnida” (Bagaimanapun, terima kasih sebelumnya), dan “Kkaekkeusi sayong-hae jusyeoseo gomapsumnida” (Terima kasih telah menggunakan dengan bersih) sebagai kalimat yang buruk. Hal ini dikarenakan kalimat tersebut mengasumsikan hal yang belum terjadi seolah-olah sudah terjadi, sehingga daya persuasi kalimatnya menurun.

Hal yang menarik adalah fakta bahwa ekspresi-ekspresi ini juga dapat dijelaskan dengan strategi kesopanan. “Sarang-hamnida, gogaek-nim” adalah sinyal ritual untuk memperlakukan pelanggan secara positif, “Eojjeotdeun miri gamsahamnida” adalah ekspresi yang membungkus permintaan dalam bentuk rasa terima kasih, dan “Kkaekkeusi sayong-hae jusyeoseo gomapsumnida” adalah ekspresi yang mengubah instruksi menjadi bentuk rasa terima kasih. Semuanya adalah kata-kata yang mencoba untuk tidak menyentuh harga diri lawan bicara secara langsung.

Namun, justru karena itulah masalah bisa muncul. Strategi kesopanan tidak selalu berhasil. Jika seseorang berterima kasih terlebih dahulu atas hal yang belum dilakukan, lawan bicara mungkin tidak merasa diperhatikan, melainkan merasa bahwa jalan untuk menolak telah ditutup oleh pembicara. Meskipun tidak mengatakan secara langsung “Silakan gunakan dengan bersih”, tekanan bahwa “Anda tidak mungkin tidak menggunakannya dengan bersih” bisa terasa lebih nyata. Dengan kata lain, format yang sopan justru bisa dibaca sebagai paksaan tersembunyi.

Dalam hal ini, bahasa lisan dan tulisan berbeda. Dalam bahasa lisan, intonasi, ekspresi wajah, gerak tubuh, dan reaksi instan melengkapi tuturan. Meskipun permintaan dilakukan secara tidak langsung, lawan bicara dapat merasakan perhatian tergantung pada nada bicara dan sikap. Namun, tulisan sekali meninggalkan tangan penulis, ia akan berdiri sendiri. Tulisan tidak memiliki intonasi maupun ekspresi wajah, dan penulis tidak bisa segera memperbaikinya sambil melihat reaksi pembaca. Oleh karena itu, kesopanan yang terlalu berputar-putar dalam tulisan lebih mudah terlihat sebagai tekanan yang diperhitungkan daripada perhatian. Inilah alasan mengapa kalimat “Eojjeotdeun miri gamsahamnida” bisa dibaca sebagai tuntutan untuk tidak menolak, bukan sebagai rasa terima kasih.

Peringatan Yoo Sun-kyung dan Lee Kang-ryong bertemu di titik ini. Ekspresi yang mempertimbangkan kesopanan dan harga diri bisa menjadi berlebihan (over-correction) dalam tulisan. Terutama dalam menulis, kejelasan dan kejujuran sering kali menjadi lebih penting. Pembaca yang sengaja memilih untuk membaca buku sudah merupakan pembaca yang cukup kooperatif. Tidak perlu menambahkan alat peredam di setiap akhir kalimat bagi pembaca seperti itu. Justru, berbicara secara akurat tanpa berputar-putar bisa menjadi etika yang lebih besar.

“-dorok hagesseumnida” bukanlah redundansi yang tidak berarti, melainkan strategi kesopanan yang memanfaatkan cara bicara tidak langsung. Dalam percakapan sehari-hari, hal-hal yang terlihat seperti kesalahan atau redundansi mungkin mengandung niat baik untuk lawan bicara. Namun, kesopanan tidak selalu datang dari sifat tidak langsung. Di beberapa situasi, berbicara secara langsung justru lebih bertanggung jawab, lebih jujur, dan oleh karena itu, lebih sopan. Tidak ada strategi mekanis dalam berbicara maupun menulis. Kesopanan yang sejati muncul dari berbicara dan menulis sesuai dengan situasi, sesuai dengan lawan bicara, dan dengan menuangkan ketulusan hati.

Referensi

《Kosa Kata Orang Dewasa》(Yoo Sun-kyung, 2020)

Buku yang membimbing pembaca untuk meneliti ekspresi yang digunakan seperti kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari guna menemukan kata-kata yang lebih akurat dan hidup. Kritik terhadap "-dorok hagesseumnida" yang dikutip dalam tulisan ini terdapat dalam buku ini.

《Belajar Bahasa Korea untuk Penerjemah》(Lee Kang-ryong, 2014)

Meskipun judulnya mengandung "untuk penerjemah", fokus utamanya adalah bahasa Korea. Dengan premis bahwa untuk menerjemahkan dengan baik, seseorang harus mampu menulis dalam bahasa Korea dengan lebih jelas dan ketat, buku ini meninjau dengan teliti kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam penulisan bahasa Korea. Contoh seperti "Eojjeotdeun miri gamsahamnida" yang dikutip dalam tulisan ini muncul dalam buku ini.

《Pragmatik Komunikasi》(Lee Seong-beom, 2019)

Jika dua buku sebelumnya adalah panduan menulis untuk pembaca umum, buku ini adalah buku akademis yang lebih dekat dengan buku teks universitas. Dasar teoritis dari Prinsip Kerja Sama Grice, Prinsip Kesopanan Leech, dan Teori Face Brown dan Levinson yang dibahas dalam tulisan ini diperoleh dari buku ini. Direkomendasikan bagi pembaca yang ingin mengeksplorasi lebih dalam mengapa kata-kata yang jelas itu penting, namun mengapa kita tetap berbicara berputar-putar dalam kehidupan sehari-hari.

〈[Memperbaiki Bahasa Kita] Bisakah ‘~dorok’ digunakan untuk diri sendiri?〉(Bae Sang-bok, 06-03-2023)

Artikel JoongAng Ilbo yang membahas makna dan penggunaan ‘~dorok’ yang menjadi topik tulisan ini. Meskipun tidak menggunakan kata 'kesopanan', artikel ini memperkenalkan berbagai teori seperti niat ekspresi hormat yang sejalan dengan hal tersebut atau pengaruh bahasa Jepang.

Sumber: https://www.fmkorea.com/best/9894252980

0
0
Komentar (0)
loading