💡 Klik pada gambar untuk beralih antara versi asli dan terjemahan

1 bulan lalu
27
00
Seouldrip🇰🇷

[Negara Asal K-Pop Tanpa Dome Konser] Mengisi 70 Ribu Kursi di Luar Negeri... Namun Tidak Ada 'Dome Konser' 50 Ribu Kursi di Dalam Negeri

① 54% Pendapatan Tiket Musik Populer Korea

Terjadi di Panggung Raksasa dengan Kapasitas 10 Ribu Kursi atau Lebih

Kurangnya Infrastruktur untuk Menampung Permintaan Tur Dunia

"Perlu Pusat untuk Mencegah Kebocoran Pendapatan dan Konsumsi Wisata"

K-Pop mampu mengisi penuh venue konser berkapasitas 50.000 hingga 70.000 kursi di luar negeri, namun ironisnya, Korea Selatan sebagai negara asalnya tidak memiliki dome konser kelas 50.000 kursi untuk menampung hal tersebut. Akibatnya, para penyanyi domestik terpaksa berpindah-pindah antara stadion sepak bola dan gimnasium berkapasitas 15.000 kursi. Hal ini juga menjadi latar belakang Presiden Lee Jae-myung yang baru-baru ini menyebutkan dalam rapat kabinet bahwa "diperlukan venue konser skala besar sekitar 50.000 kursi," dan mengomentari rencana pembangunan venue 20.000 hingga 30.000 kursi saat ini dengan mengatakan, "skalanya terlalu kecil. Kita butuh venue konser yang menjadi simbol nasional."

Menanggapi hal ini, Menteri Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Choi Hwi-young menyatakan akan menentukan lokasi venue konser setelah berkonsultasi dengan pemerintah daerah yang baru setelah pemilihan daerah. Namun, industri pertunjukan menunjukkan bahwa pembangunan dome konser kelas 50.000 kursi harus dibedakan pendekatannya dengan perluasan arena 20.000 hingga 30.000 kursi yang bertujuan untuk pengembangan budaya regional yang seimbang.

Tentu saja, venue konser khusus musik berkapasitas 20.000 hingga 30.000 kursi itu diperlukan. Karena itu merupakan infrastruktur inti untuk memperkuat basis pasar pertunjukan regional dan secara stabil mengakomodasi tur idola skala menengah-besar atau konser bintang pop luar negeri yang datang ke Korea. Namun, fasilitas yang disebutkan oleh Presiden adalah konsep yang lebih tinggi, yaitu dome konser tingkat nasional dengan kapasitas sekitar 50.000 kursi. Jika arena 20.000 kursi adalah 'pinggang' yang menopang ekosistem industri pertunjukan, maka dome 50.000 kursi adalah 'atap' yang menarik artis papan atas dunia. Kedua fasilitas ini memiliki peran dan tujuan yang berbeda.

Seorang perwakilan dari Amuse, perusahaan hiburan besar Jepang, mengatakan, "Arena sekitar 20.000 kursi dan dome/stadion sekitar 50.000 kursi memiliki karakteristik yang sangat berbeda sehingga tidak bisa saling menggantikan." Ia menambahkan, "Arena tersebar di kota-kota utama dan sering digunakan sebagai venue tur di mana artis bertemu penggemar di seluruh negeri, sedangkan dome/stadion digunakan sebagai tempat festival di mana penggemar dari seluruh negeri berkumpul, seperti pada hari terakhir tur atau hari peringatan."

Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata juga menyadari masalah kurangnya venue konser besar. Dalam laporan kerja tahun lalu, mereka mengusulkan pembangunan dome 50.000 kursi bersamaan dengan perluasan Arena Seoul dan Goyang, serta mempertimbangkan penguatan sistem suara dan pencahayaan di fasilitas olahraga daerah sebagai solusi jangka pendek. Namun, hambatan yang dialami pertunjukan K-Pop kelas atas tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah speaker dan lampu. Diperlukan infrastruktur industri yang komprehensif, mulai dari alur pergerakan untuk menampung dan mengontrol 50.000 penonton, atap untuk menghalau cuaca dan kebisingan, sistem masuk peralatan panggung besar, struktur backstage, hingga jaringan transportasi luas untuk mendukung kepulangan penonton di larut malam. Pembangunan dome konser 50.000 kursi bukan sekadar perluasan fasilitas budaya, melainkan masalah daya saing untuk menarik modal hiburan global ke Korea.

Setengah Pendapatan Musik Populer Berasal dari Venue 10 Ribu Kursi atau Lebih

Menurut 'Analisis Status Penjualan Tiket Pasar Pertunjukan 2025' dari KOPIS (Korea Performing Arts Box Office Information System) yang dikelola oleh Korea Arts Management Service pada tanggal 1, tahun lalu terdapat 4.677 pertunjukan musik populer yang digelar sebanyak 7.749 kali. Tercatat ada 7.642.999 tiket yang dipesan dengan total penjualan tiket mencapai 981,72286 miliar won. Dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah pertunjukan meningkat 17%, jumlah sesi 17,6%, jumlah pemesanan tiket 19,9%, dan nilai penjualan meningkat 29%.

Nilai tambah yang dihasilkan oleh venue besar sangat menonjol. Pertunjukan musik populer yang diadakan di venue dengan kapasitas 10.000 kursi atau lebih pada tahun 2025 mencatat 3.575.433 pemesanan tiket dengan nilai penjualan 530,08731 miliar won. Ini setara dengan 46,8% dari total pemesanan tiket musik populer dan 54% dari total nilai penjualan. Artinya, lebih dari setengah modal pasar musik populer dihasilkan di venue besar.

Kecepatan pertumbuhannya juga sangat pesat. Pertunjukan dengan kapasitas 10.000 kursi atau lebih meningkat lebih dari 10 kali lipat, dari 14 pertunjukan (44 sesi) pada tahun 2021 menjadi 157 pertunjukan (359 sesi) pada tahun 2025. Dalam periode yang sama, nilai penjualan tiket melonjak sekitar 27 kali lipat, dari 19,4 miliar won menjadi 530,1 miliar won. Meskipun jumlah pertunjukannya sedikit, dari sisi skala pasar, hal ini telah menjadi poros utama. Ini menunjukkan bahwa pusat pasar musik populer telah bergeser dari venue kecil-menengah ke pertunjukan skala stadion.

Faktanya, penjualan tiket musik populer mencapai puncaknya pada bulan Juli tahun lalu sebesar 110,1 miliar won dan bulan Desember sebesar 130,4 miliar won. Hal ini dipengaruhi oleh konsentrasi permintaan konser luar ruangan besar di musim panas dan konser akhir tahun. Pertunjukan besar kini telah melampaui sekadar acara berbasis fandom tertentu dan menjadi penggerak utama yang menarik seluruh industri musik populer Korea.

Penyanyi K-Pop yang Mengisi Panggung 50 Ribu Kursi di Luar Negeri

Daya tarik penyanyi K-Pop telah terbukti di pasar luar negeri. BTS mengumpulkan 120.000 orang selama dua hari di Wembley Stadium, Inggris, pada tahun 2019. Pada tahun 2021, mereka menjual 214.000 tiket untuk 4 kali pertunjukan di SoFi Stadium, Los Angeles, AS, dengan pendapatan sekitar 33,3 juta dolar (sekitar 50 miliar won). Dalam tur Amerika Utara baru-baru ini, mereka menarik sekitar 840.000 orang melalui 15 pertunjukan di 5 kota.

BLACKPINK, setelah Tokyo Dome (55.000 orang) pada tahun 2019, tampil di Stade de France, stadion terbesar di Eropa dengan kapasitas 60.000 orang, pada tahun 2023. TWICE menjadi artis wanita luar negeri pertama pada tahun 2024 yang menarik 140.000 orang selama dua hari di Nissan Stadium, stadion terbesar di Jepang yang mampu menampung 70.000 orang.

Kini, tur dome dan stadion di luar negeri telah menjadi hal biasa bagi K-Pop. SEVENTEEN menarik 144.000 orang melalui 2 pertunjukan di Nissan Stadium Jepang, dan mengumpulkan 435.000 orang melalui 9 pertunjukan tur dome Jepang (Nagoya, Tokyo, Osaka, Fukuoka). Stray Kids menarik 315.000 orang melalui 6 pertunjukan di Tokyo Dome dan Kyocera Dome, serta 220.000 orang melalui 4 pertunjukan stadion di Jepang pada tahun berikutnya.

Venue 50.000 kursi bukan hanya milik penyanyi papan atas. Artis kelas menengah-atas seperti aespa (Tokyo Dome 94.000 orang), G-Dragon (Tokyo Dome 80.000 orang), NCT (Stadion Jepang 220.000 orang), dan ENHYPEN (4 kota di Jepang 400.000 orang) juga aktif memanfaatkan infrastruktur 50.000 kursi atau lebih dalam proses tur dunia mereka.

Permintaan domestik juga telah terverifikasi. IU dan Lim Young-woong masing-masing berhasil menjual habis tiket konser solo berskala 100.000 orang selama dua hari di Seoul World Cup Stadium. Pasar telah tumbuh hingga mampu menarik 50.000 orang per hari, tidak hanya untuk grup idola tetapi juga penyanyi solo dan penyanyi trot. Namun, pertunjukan besar di dalam negeri masih bergantung pada penyewaan fasilitas olahraga, bukan dome khusus musik.

Modal K-Pop yang Didapat di Luar Negeri Harus Dihubungkan ke Ekosistem Domestik

Dome konser 50.000 kursi bukan sekadar fasilitas simbolis. Ini adalah fondasi untuk menyerap modal K-Pop yang telah berkembang di pasar global ke dalam negeri. Sementara penyanyi Korea meraup keuntungan besar dengan mengisi Tokyo Dome dan Wembley, agensi domestik masih membangun panggung sementara di tengah persaingan penyewaan gimnasium dan kontroversi kerusakan rumput stadion sepak bola.

Inti dari diskusi infrastruktur venue konser bukan sekadar jumlah kursi, melainkan modal pasar mana yang akan ditarik ke dalam negeri. Jika arena 20.000 kursi mempertebal ekosistem industri dengan meningkatkan frekuensi pertunjukan menengah-besar, maka dome konser 50.000 kursi berperan dalam mengikat acara mega-event puncak tur dunia di Korea.

(Dihapus)

https://n.news.naver.com/mnews/article/277/0005770048?sid=103

Sumber: https://theqoo.net/hot/4225204840

0
0
Komentar (0)
loading