1 bulan lalu
15
00
Seouldrip🇰🇷

Kampus Juga Mengecam 'Krisis Kekurangan Surat Suara'... "Bunga Demokrasi Telah Patah"

Suara kecaman terhadap krisis kekurangan surat suara pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 3 Juni juga mulai terdengar dari kawasan universitas di Seoul. Di beberapa universitas, pengumpulan tanda tangan sedang dilakukan dengan alasan bahwa organisasi mahasiswa pusat harus mengeluarkan kecaman resmi.

Di Universitas Yonsei, sebuah pernyataan terbuka dengan nama asli yang mendesak respons dari organisasi mahasiswa pusat terkait krisis kekurangan surat suara telah dipublikasikan di komunitas kampus, dan kampanye tanda tangan pun dimulai. Menurut penulis pernyataan tersebut, hingga pukul 10.53 pagi hari itu, total sekitar 270 orang telah berpartisipasi dalam kampanye tanda tangan.

Penulis menyatakan, "Ini adalah peristiwa di mana hak pilih warga negara terlanggar akibat ketidakmampuan lembaga negara, dan fondasi demokrasi telah terguncang." Ia mendesak, "Organisasi mahasiswa pusat Universitas Yonsei harus segera memanggil rapat umum mahasiswa secara resmi dengan agenda kecaman dan langkah respons terhadap krisis kekurangan surat suara Pilkada 3 Juni." Kepada media ini, penulis mengungkapkan, "Sore ini, saya berencana memasang poster besar (daejabo) di gedung kemahasiswaan bersama rekan-rekan mahasiswa."

Seorang mahasiswa program magister di Universitas Sungkyunkwan juga membagikan poster besar di komunitas kampus dengan nama asli dan judul "Pemilu yang legitimasi prosedurnya runtuh tidak dapat dibenarkan atas nama demokrasi." Ia menulis, "Masalah kekurangan surat suara, penundaan pemungutan suara, dan konfrontasi terkait pengeluaran kotak suara yang muncul dalam Pilkada kali ini adalah masalah serius yang merusak kepercayaan terhadap pemilu." Ia menambahkan, "Pemungutan suara adalah bunga demokrasi, namun akar dari bunga tersebut telah membusuk."

Di Universitas Sogang, seorang mahasiswa juga memasang poster besar dengan nama asli yang menyatakan, "Negara memiliki kewajiban untuk menjamin hak pilih pemilih." Ia menulis, "Kami ditolak dalam menjalankan kedaulatan kami dengan alasan 'kekurangan kertas', dan bunga demokrasi akhirnya patah." Ia menunjukkan bahwa "Terlepas dari logika partai penguasa maupun oposisi, peristiwa ini menunjukkan betapa remehnya masyarakat kita menganggap demokrasi."

https://n.news.naver.com/mnews/article/023/0003980183?sid=102

Sumber: https://theqoo.net/hot/4229967556

0
0
Komentar (0)
loading